You are hereASAL MULA ILMU SILAT TIONGHOA DI PULAU JAWA
ASAL MULA ILMU SILAT TIONGHOA DI PULAU JAWA
oleh: Yosep Widadya – majalah Sinergi edisi Perdana / November 1998
Perantauan Tionghoa selain berdagang, diantaranya membawa bekal ilmu silat yang spesifik yang kita kenal dengan beberapa nama. Ada yang menyebutnya Kunthau, Buge, Kuo Shu, Kang Hu, Chien Shu dan lain-lain.
Dan akhir-akhir ini lebih dikenal dengan nama Kung Fu, sedangkan bentuk olahraga dari Kung Fu (Kung Fu Sport) sekarang dikenal dengan nama Wu Shu. Seingat penulis, waktu dahulu lebih sering disebut Kunthau. Bagaimana pada masa itu ilmu silat Tionghoa terkenal dengan nama Kunthau ? Sedangkan arti kata Kunthau adalah ' kepalan tangan'. Apakah ada nilai sejarah yang menyokong kata itu ? Apakah ada hubungannya dengan salah satu aliran silat Tionghoa yang sangat besar dan terkenal diwilayah Tiongkok Selatan yang disebut Nan Sao Lin U Tju Tjien ? Biasa disebut aliran Go Tju (Ngo Tjouw) dengan simbol gambar bentuk kepalan yang spesifik. Hanya orang-orang waktu dulu yang dapat menjelaskannya. Kita hanya dapat mereka-reka.
Ilmu silat Tionghoa ada banyak sekali macam dan ragamnya, maupun alirannya. Di pulau Jawa dikenal beberapa macam aliran, seperti: Sao Lin Selatan, Sao Lin Utara, Wu Tang, O Mei dan lain lain. Ada aliran berdasarkan suku daerah seperti: Hok Kian, Shan Tung, Khe, Kong Hu (Kwang Tung) dan lain lain. Atau gabungan dari dua unsur diatas, seperti: Hok Kian Sao Lin, Shan Tung Sao Lin dan lain lain. Ada juga nama berdasarkan jenis permain-annya, seperti: Tay Chi, Hsing Ie, Pa Kwa, Tit Kun dan lain lain. Berdasarkan pembicaraan penulis dengan seorang pakar pelatih Wu Shu berasal dari Cen Du yang pernah melatih para atlit Wu Shu Indonesia, Mr Deng Chang Li, dikatakan bahwa di Tiongkok ada ratusan macam aliran.
Membicarakan orang orang ternama dalam lingkungan ilmu silat Tionghoa dimasa lampau, penulis sangat berterima kasih kepada almarhum Tan Tiang Toan atas catatan peninggalan-nya. Tan Tiang Toan adalah seorang pendiri himpunan Seni Gerak Badan Jakarta (Kuo Chi Yen Chin She) di Senen Jakarta.
Dalam catatannya dikemukakan bahwa sebelum perang dunia I yang meletus pada tahun 1914 di tanah Jawa sudah banyak menetap ahli ahli silat Tionghoa, antara lain:
1. HOK KIAN SAO LIN
a. Tan Tik Siu, Pertapa di Tulung Agung, saudara seperguruannya: Thio Kim Tui, Lauw Eng Tong, Lim A Kauw, dan Tan Swie Hong.
b. Be Kang Pin, spesialis Eng Cun Kun di Semarang dan pernah di Ambarawa.
c. Lauw Tjheng Tie menetap di Ambarawa, Wonosobo dan Parakan.
Murid-murid nya: Hoo Lip Pun (Bah Sutur), The Hway Hin, Ci Cin Giok dan Souw Sui Liang di parakan, The Tjin Tjo di Tulung Agung, Tji Kwat Tjeng di Bogor.
d. Mpe Tang Kiam di Jakarta.
Murid-murid nya: Tjiam Tjeng Wie di Jakarta. Cucu murid: Shie Kong Liang, gouw Gin Hok di Jakarta.
e. Sinshe Shoa Lay dan Sinshe Kwali di Jakarta.
f. Wi Le Kwi di Tasikmalaya.
2. KWITANG SAO LIN
a. Siauw A Tok di Jakarta
Murid-murid nya: Ten Fuk Suy di Jatinegara, Lim Bit Sui di Jakarta
3. SHAN TUNG SAO LIN
a. Liu Te So di Rangkas Bitung dan di Palembang
Murid-murid nya: Oey Teng Tjong di Jakarta, Lim Kin Tjoan di Teluk Betung.
Setelah perang dunia I berakhir, tahun 1925 ditanah Jawa banyak guru-guru silat Tionghoa antara lain:
1. HOK KIAN SAO LIN
a. Sinshe Lo Ban Teng dari Sao Lin Ho Yang Pay di Semarang kemudian ke Jakarta
Murid-murid nya: Lim Tjui Kang di Solo, Lo Bun Liu di Jakarta, Tan Hui Liong dan Lim Kim Bie di Jakarta
Anak-anak nya: Lo Sao Gok, Lo Sao Tjun dll.
b. Mpe Tahu (Hoay) – Kunthau Sikap di Jakarta
Mpe Sinyo – Kunthau Kepret di Jakarta
Li Tjeng San - Kunthau Desar di Jakarta
c. Ku Ba Kauw, Ku Tat Siong, Ku Hay Lin, Ku Sip Lin di Jakarta
d. Sinshe Ku Liong Hin di Jakarta
Sinshe Tan Wie Siong di Jakarta
Sinshe Lim Tong Kun di Jakarta
e. Gouw San Tong (Tit Kun) di Bogor
Murid-murid nya: Oey Ke Han, Oey Bie Dian, Tan Hok Tjiang semua di Jakarta
f. Sinshe Hiang Kim Ie – Kunthau Cu Coan di Jakarta
g. Lie Tian It di Cianjur
h. Tjiong Kim Sen (Picis) di Bandung
Murid-murid nya: Lie Kie Goan, Oey Keng Hay, Kang Hap Bouw di Bandung, Lim Sin Tjui di Bogor, Tjio Wi Koat di Cibinong
i. Tjhi Hsi Hwee Sio di Bandung
Murid: Tan Peng Liang di Senen – Jakarta
j. Ang Tie Seng di Bandung
k. Lie Peng Lien di Bandung
2. KWITANG SAO LIN
a. Tjen May Fung, Thiong Tjet Hin, Tjung Tjin Yang, Tju Yat Ling, Yap Nyuk Tong, Lay Kiun Min, Lie Yun Thiam, Oey Sin Fen, Tan Tik Sam semua di Jakarta.
3. SHAN TUNG SAO LIN
a. Ong Tjoe Kioe di Jakarta
Murid-murid nya: Ong Tiang Biauw, Ong Kim Seng, Wang Kui Siang, Lo Yun On, Lim Tjeng Hiang, Tan Eng Tju semuanya di Jakarta, Ang Tek Hoat di Cibinong, Lauw Su Peng di Bandung
Anak: Wang The Yen di Jakarta
b. Liu Tjung Ho, Liu Tjung Tjui (Liu Oh Ting) di Bandung, Bogor dan Jakarta
Murid-murid nya: Oey Se Keng di Bandung, Tan Tiang Toan, Lie Lang Yen, Tjai Bun (Lay Tjan Lung) di Jakarta
c. Liu Siew Wen di Jatinegara
Tjong Sing Kian di Senen, Jakarta
d. Tjio Bun Wen di Jakarta
Murid-murid nya: Lie Gie Hiong di Jakarta, Tan Eng Tjun di Surabaya
e. Tji Kay Liang di Pekalongan
Murid: Gouw Sin Hie (Ho Peng)
4. HO PAK SAO LIN
Yap Lim Yok di Jakarta kemudian pindah ke Bandung
Murid: Thung Liong Tiu
5. BU TONG SAO LIN
Ho Tong Ko di Bandung
Murid: Tan Seng Ho di Bandung
6. HOA SAN SAO LIN
a. Tjhi Shiao Fu di Semarang
Murid-murid nya: Liu Yan Fei, Ong Swan Fang, Tan Kuin Bie, Kho Him Tjai, Tan Khe To, Tjhi Tjiu Ming semua di Semarang, Oey Pek Siong di Tegal, Tan Kwi Lian di Ulujami, Pwa Kay Hind an Liem Yu Kiong di Bandung, Oey Tiang Bouw dan Tan Kim Liong di Bogor, Tsai Cun Je di Jatinegara
b. Saudara seperguruan Tjhi Shiao Fu banyak mengajar di Jawa Tengah antara lain:
I Min Tung, Sun Tee Yang, Yen Lie Jung, Ma Tung Jauw, Su Yuen Fang dan Yen Jing Swee, Liu Han Tjing di Cirebon
Catatan: Pada saat ini, dari nama-nama diatas banyak yang sudah meninggal dan juga banyak yang data-data terbarunya tidak kami punyai. Untuk itu apabila diantara pembaca ada yang mempunyai data lebih akurat, silahkan menghubungi kami. Kami sangat berterima kasih atas partisipasinya.

Di US ada penerus dari Ho peng mungkin yang tertarik dpt melihat di website ini
http://www.shaolinhungmei.com/whatiskf.html
salam
kurniawan
Yang Hong Jien
Salam damai sejahtera,
Saya search nama "Tji Kay Liang" dan menemukan website ini beserta keterangan diatas. Engkong saya bernama "Yo Hok Tjing (YHT)". Beliau belajar kungfu dari Tji Kay Liang, dengan cara mencuri lihat bertahun-tahun saat Tji Kay Liang (TKL) berlatih kungfu. Konon TKL sering melakukan perjalanan (berjualan obat) ke Kedungwuni, Pekalongan dan sering berlatih di hutan-hutan bambu di Kedungwuni.
Saya dengar dari cerita Alm. papah saya yang bernama Yo Giok Tjong. Bahwa aliran kungfu engkong saya masih ada hubungan dengan Tjhi Shiao Fu di Semarang dan keluarga Lo di Parakan. Entah benar atau tidak, saya kurang jelas.
Semasa hidup engkong, beliau membuat 3 pelatihan. Kungfu, sepak bola dan badminton. Beliau bahkan pernah menjadi pelatih di Jarum Kudus. Encek saya (adik papah) yang bernama Yo Giok Mok dan siko saya (adik papah juga) yang bernama Yo Giok Bwe, pernah mewakili Indonesia di Sea Games (kalo gak salah). Ada piala dan foto-fotonya.
Tentang kungfu, konon engkong berhasil membuat teknik kungfu yang beliau sebut "Cun Hwe Cu Tang", yang katanya kalau diterjemahkan artinya kungfu 4 musim. Kata papah saya, kehebatan teknik ini ada hubungan dengan ilmu jalan darah. Konon setiap orang pada jam tertentu ada suatu kelemahan, kalau dipukul di beberapa bagian tertentu, dengan teknik keras dan lembut. Hasilnya orang itu bisa mati 3 hari lagi atau seminggu lagi. Pokoknya teknik yang berbahaya sekali dan tidak cocok digunakan di jaman sekarang yang mengenal hukum ini.
Pewaris teknik ini ada 3 orang yaitu papah saya, empek saya (Yo Giok Kiat) dan empek Sun Liang yang sekarang ada di Ciledug, Jakarta Utara. Papah dan empek saya, keduanya sudah meninggal. Sedangkan empek Sun Liang sudah ganti nama menjadi Usman yang konon mempunyai pekerjaan sebagai kepala preman di Jakarta Utara.
Masa kecil saya lalui dengan kekecewaan dan kepahitan karena banyak orang berkata cucu dan anak jago kungfu tapi gak bisa kungfu. Kenapa? Papah saya sangat keras melarang saya berlatih kungfu. Alasan beliau, orang belajar kungfu susah menjadi kaya dan mudah mendapat musuh. Kebetulan watak saya adalah keras dan pendendam.
Saya pernah mencoba belajar kuntao di empek Ho Peng (Gouw sin Hie), tapi setelah beliau tahu nama engkong, saya disuruh pulang suruh minta ijin dulu ke papah. Padahal papah melarang keras saya belajar kungfu. Saya juga pernah belajar beberapa bulan di seorang guru di Jl. Klego yang ahli menggunakan senjata lemas Kiu Joan Pian, tapi setelah mengetahui nama engkong saya, beliau bilang pelajaran kungfunya cukup sampai disitu karena alasannya adalah engkong adalah gurunya
dan papah adalah suhengnya jadi secara tingkatan seharusnya dia tidak boleh mengajari saya.
Saya juga pernah belajar Tai Chi di Jl.Bandung 44, Pekalongan. Tapi tidak selesai karena saya kurang semangat belajar. Saya merasa teknik kungfu keluarga kami lebih dashyat sehingga cenderung meremehkan aliran lain.
Belakangan saya mengerti bahwa "tidak ada ilmu yang terhebat, yang hebat adalah orangnya".
Mungkin lebih baik saya tidak belajar kungfu, sehingga bisa berubah menjadi sabar seperti sekarang ini dan banyak teman. Tapi disisi yang lain saya bernostalgia tentang hal yang telah silam yaitu tentang legenda papah saya yang berhasil merumahsakitkan 112 orang (bersenjata cangkul, kampak, pisau dan sabit) pada saat usia 18 tahun di daerah Banyurip, Pekalongan. Kasusnya sempat ditengahi ulama dan Brimob. Papah tidak pernah cerita tentang legenda ini, saya mendengar legenda ini dari warung-warung makan Banyurip sampai Kedungwuni, juga tetangga-tetangga.
Seandainya .. oh seandainya...
Sampai sekarang ini saya tertarik sekali dengan teknik 4 musim ini. Kalau berhubungan dengan jalan darah, mestinya teknik ini bisa juga untuk mengobati orang lain. Wah sayang ilmu ini hilang begitu saja...
Salam semuanya,
Sedikit latar belakang saya:
Mpek King Yang adalah Kakek Guru Saya.
Pada tahun 1998 saya mulai ikut latihan private pada suhu Liem Lian Djin (Om Djin) yang merupakan murid kesayangan Mpek King Yang dimana beliau tidak pernah minat untuk buka perguruan. Beliau hanya menerima murid secara privat aja. Sebelum belajar ama Mpek King Yang, beliau sempat belajar Shanthung dan Kwitang dari keluarganya yang notabene adalah pesilat jaman Belanda. Selain itu semua keluarganya merupakan murid Mpek King Yang juga. Beliau ketemu dengan Mpek King Yang pada saat Mpek berusia 72 Tahun. Dimulai dengan demo oleh Mpek dimana Mpek menotok rusuknya dengan 1 gerakan saja. Mpek King yang tidak gampang dalam menerima murid. Suatu kehormatan bagi beliau karena bisa diterima oleh Mpek King Yang. Selama berlatih, Mpek melihat sesuatu yang beda dalam diri beliau. Akhirnya Mpek memutuskan untuk menyerahkan beliau kepada muridnya yang terbaik yaitu suhu Hok Djin.
Mpek King Yang.
Nama marga asli beliau sebenarnya bukan Kwee namun Tan.
Kwee karena di kwepang kan utk cisuak. Sebelum bertemu Cia Fun Jiao, beliau sudah belajar dari banyak guru, terutama aliran Hok Kien (Sam Chian) Guru utama Mpek sebenarnya bernama Goei Bok Kie(Wei Mu Ci) yakni murid/anak dari Goei In Nam(satu dari 10 macan, murid Coa Giok Beng, pendiri Ho Yang Pai), Anak atau murid belum jelas masih diperdebatkan. Kalo ada yg tau silahkan menambahi.
Cia Fun Jiao
Beliau memang berasal dari Cina Selatan.
Namun datang ke Indonesia bukan karena didatangkan oleh siapa2.
Asal usul Cia Fun Jiao memang kurang jelas karena jarang dibahas.
Namun dari beberapa informasi yg bisa saya dapatkan;
Beliau adalah seorang pelatih dari organisasi bendera hitam (Anti Qing/Manchu) Karena suatu incident, beliau berimigrant ke Indo mengingat adanya rumor tentang saudara sepupunya yg membuka
sekolah kuntao di Malang dan sudah hidup mapan. Sesampai dimalang, ternyata tidak menemukan saudaranya. Akhirnya tinggal dijalanan.
Pada suatu ketika, Ada kelompok bermocora Fankui yg mencoba membunuhnya yakni berjumlah 80 orang bersenjatakan kapak.
Bukan cuma bisa lolos dan mengalahkan mereka satu per satu, namun tidak ada satupun yg sampai dibuat cedera. Hal ini terdengar oleh Orang Kaya dari Ambengan; Ong Tik Guan(Background: Petinju dan sedikit kuntao) Bersama hokpeng nya; Sukong King Yang (Mpek King Yang) membawa pulang Cia Fun Jiao dan memperlakukan seperti keluarga sendiri, dan tidak ada satu katapun yg meminta utk diajarkan kuntao.
Selama 2 tahun Cia Fun Jiao tinggal bersama, Beliau tidak tahan lagi utk tidak berbuat/komentar apa2 terhadap kemajuan kuntao mereka yang mana tiap hari mereka berlatih sparing di dalam 1 rumah.
Hingga pada suatu hari, beliau menanyakan ke mereka, apakah mereka serius mau sunggu latihan kuntao. Akhirnya Cia Fun Jiao bersedia mengajarkan mereka RAHASIA INTISARI Ilmu Shaolin She aliran Selatan setelah mereka berdua disumpah dan jikalau melanggar akan keluar darah dari 7 lubang.
King Yang's kungfu adalah NCK atau Ho Yang Pai Atau Hokkien Kuntao?[b]
Yang pasti ini adalah kungfu aliran Hok Kien yg mempunyai Nucleus utama; Sam Chian.
Secara silsilah, boleh dibilang NCK;Karena:
Sukong Kwee King Yang merupakan murid langsung dari Bok Kie Say(Goei Bok Kie) yg merupakan murid/anak dari Goei In Nam.
Goei In Nam adalah murid langsung dari Coa Giok Beng yakni pendiri Ho Yang Pai(NCK)
Dikelompok NCK sendiri, jaman dahulu tidak dikenal isitilah Ngo Cho Kun, yang ada hanyalah Ho Yang Pai dan sering hanya disebut kungfu Hok Kien.
Belakangan tahun sekitar th 1983 kalo gak salah, barulah dibentuk organisasinya; Wu Zu Quan akhirnya dikenal dengan nama itu.
Secara gerakan pembukaan, boleh dibilang NCK;Karena:
Samchien memang ada banyak; dari aliran Pe Ho(Bango putih), Thai Zu, Chow Gar, dll.
namun aliran NCK punya ciri kas khusus yakni dibagian pembukaan;
Lima gerakan awal(Double sat2x, double kim, pai dan chuan chiu), sebelum melangkah maju(Cin Po) utk Sang Jak, adalah ciri unik NCK yg melambangkan 5 nenek moyang NCK.
Secara nama2 jurus, boleh dibilang NCK;Karena:
Ciri kas NCK, punya nama2 jurus;
Samchian, Ji Sip Kun, Sam Chian Sip Li, Song Sui, Pakak, Si Jip Kun(1 jari), dll.
Dan juga nama2 gerakan;
Sang Jak, Kim, Tio, Sat, Cam, Kong, Ceng, Cin po, Tue po, Sa Khak Hau, dll.
Secara pandangan organisasi Wuzuquan union di China, boleh dibilang NCK;Karena:;
kira2 10 tahun yang lalu, perwakilan mereka pernah datang ke Surabaya, utk mengajak kelompok kita dari rumpun Bok Kie Say utk datang bersama2 ke China.
Bertujuan melestarikan variant2 NCK yg terpencar2.
Melihat ilmu kuntao kita, dan silsilah Goei Bok Kie, meraka lah yg meyakini bahwa kungfu kita ini adalah NCK.
Dari situlah beberapa dari kita baru mengetahui kalo gerakan kungfu kita darilah NCK.
Secara Intisari, BEDA DENGAN NCK;
secara gerakan luar memang sama dengan NCK. ciri kas dari GOei Bok Kie's NCK memakai "Sekok"/"Drik", Dikalangan Lo Ban Teng istilah ini disebut "Sok" dengan memakai geberan badan.
Namun Secara intisari sudah tidak sama lagi, semenjak Cia Fun Jiao memberikan INTISARI RAHASIA shaolin she selatan kepada Mpek King Yang.
Jenis tenaga dan cara pengeluaran tenaga udah jelas berbeda, apalagi masalah pemakaian; sangat berbeda.
Jadi teman para praktisi King Yang's Kungfu, jangan heran2 jika Sam Chien kita mirip secara gerakan namun beda secara intisari.
Kalau di Jakarta saya merupakan murid terakhir dari sifu Yusuf Hananto (Hyang Chong Chu) yang merupakan anak sulung dari sifu Hyang Kim Ie dari aliran Hokkien Siauw Lim Sie. Salah satu demonstrasi sifu Yusuf Hananto yang membuat takjub banyak orang yaitu demo patah sumpit di tenggorokan dan atraksi gantung diri.
Selain itu saya juga memperdalam Wing Chun secara private dibawah pimpinan Master Gatut Swadana orang pribumi yang berasal dari Malang dan merupakan murid ketiga dari Grandmaster She Han Giok Gian salah satu dari delapan Naga Shaolin. Master Gatut Swadana membuka perguruan Kungfu Shaolin Sie Naga Putih di Depok. (http://nagaputih.wordpress.com/) dan membuka pelatihan Wing Chun Kungfu di daerah Tebet (http://shaolinshe.com/).
Kuntao ini kalau tidak salah sudah di sederhanakan dengan penekanan di eng chun dan sam cien salah satu penerusnya di US adalah muri dari tio tik wie murid dari empek kim yang , silahkan web sidenya di lihat http://www.engchunkun.com/
kalau di lihat dari nama nama jurusnya sih kombinasi hoyangpai dan engchun(bahasa hokkiennya wing chun).
mungkin kalau ada filmnya ? biar lebih jelas biar tidak punah he, he, he
Saya turunan dari Ong Tjoe Kioe-->Wang Kui Siang-->Mpe Au-->Asuk Aliang
Ong Tjoe Kioe-->Wang Che Yen-->Lao Tze Hok Guan
Apakah Yen liu jung ini sama dengan Yan Yie Cheng yang di Bandung??kalau sama, alirannya Bu Tong Shaolin bukan Hoa San Shaolin. Boleh tahu darimana anda tahu Chi Hsiao Foo dari Hoa San Shaolin??apakah dari anak angkatnya Chi Chu Ming??
Sampai saat ini ada Bhiksu Shaolin berumur hampir 90 tahunan di tangerang bernama Oue Long Hok dan masih mengajar sampai sekarang.
Tjhi Hsi Hwee Sio-->Kwi Guan dan Tan Pheng Liang-->Pun Ngo Khi (Tangerang) tapi sudah enga mau ngajar.
Kho Chen Sui (tangerang) --> Mpe Minggu (jakarta) sudah meninggal -->kiki
Boleh saya tahu anda dapat nama-nama ini dari siapa???
Terima kasih atas tanggapan yang tak terduga ( dari Kiki Jakarta ? - mohon sudi memperkenalkan diri lebih lanjut!)
Artikel yang ditulis Yosef Widadya (saya juga belum kenal orangnya) diatas saya KUTIP APA ADANYA dari majalah SINERGI November 1998.
Nama-2 sesepuh yang ditulis disana saya juga banyak sekali yang belum ketemu apalagi kenal. Saya hanya kenal dengan sifu Tjhi Tjiu Ming yang melatih Kungfu dan Tai Chi di WU HE TCM Club kami di Malang. Artikel tersebut sudah saya tunjukkan pada sifu Tjhi Tjiu Ming ( HP : 08884844218 ) dan beliau mengatakan cukup banyak yang kenal !
Senang sekali dapat beberapa info baru dari P. Kiki, barangkali kita bisa saling kontak lebih lanjut !
Salam hormat,
Ando Lu ( 56 tahun )
HP: 08883330795